Cara Mengetahui Siklus Menstruasi Melalui Fase-Fase Berikut Ini

Menstruasi merupakan salah satu aspek yang paling memerlukan perhatian. Soalnya, ketika kita mempelajari cara mengetahui siklus menstruasi, kita dapat mengatur pola kesehatan kita untuk menjadi lebih baik lagi. Sementara itu, siklus menstruasi sendiri terdiri atas beberapa fase. Untuk lebih lengkapnya, mari kenali hormon-hormon terkait menstruasi sekaligus fase menstruasi berikut ini!

Materi IPA Kelas 9 SMP Kurikulum 2013 Siklus Menstruasi

1. Progesteron

Hormon yang satu ini bekerja sama dengan estrogen yang berfungsi untuk menjaga siklus reproduksi sekaligus menjaga kehamilan. Sama seperti hormon estrogen, hormon progesteron juga dihasilkan di ovarium serta berperan dalam penebalan dinding rahim.

2. Gonadotropin

Hormon pelepas gonadotropin (Gonadotrophin-releasing hormone-GnRh) merupakan hormon yang diproduksi oleh otak serta membantu memberikan rangsangan pada tubuh untuk menghasilkan perangsang folikel serta hormon pelutein.

3. Hormon Pelutein (Luteinizing hormone-LH)

Hormon yang satu ini berfungsi untuk merangsang sel telur dan proses ovulasi yang dihasilkan dari ovarium.

4. Hormon perangsang folikel (Follicle stimulating hormone-FSH)

Hormon perangsang folikel bertugas untuk membantu sel telur yang terdapat di dinding ovarium matang untuk siap dilepaskan. Hormon perangsang folikel ini diproduksi pada bagian kelenjar pituitari pada bagian bawah otak.

Sementara itu, fase-fase siklus menstruasi terdiri atas fase-fase berikut ini.

1. Fase Menstruasi

Fase menstruasi biasanya terjadi selama 3 hingga 7 hari. Pada fase ini, lapisan dinding rahim akan luruh menjadi darah menstruasi. Banyaknya darah yang keluar selama menstruasi diperkirakan berkisar antara 30-40 ml. Biasanya, pada hari pertama hingga hari ketiga, darah menstruasi yang keluar akan lebih banyak. Pada saat ini, wanita akan merasakan nyeri atau kram pada bagian panggul, kaki, serta punggung.

Pada fase ini, biasanya kita juga kerap merasakan nyeri pada bagian perut karena adanya kontraksi yang terjadi di rahim. Kontraksi otot yang terjadi di rahim ini dikarenakan oleh adanya peningkatan hormon prostaglandin selama menstruasi terjadi.

Kontraksi kuat yang terjadi pada rahim bisa menyebabkan suplai oksigen ke rahim menjadi tidak berjalan dengan lancar. Kekurangan asupan oksigen inilah yang nantinya akan menyebabkan kram dan nyeri perut selama menstruasi. Walaupun terasa sakit, rasa nyeri yang muncul selama menstruasi ini pada dasarnya membantu mendorong dan mengeluarkan lapisan dinding rahim yang luruh menjadi darah menstruasi.

Lapisan dinding rahim yang luruh ini disebabkan oleh adanya penurunan kadar estrogen dan progesteron. Sementara itu, hormon perangsang folikel perlahan-lahan mulai meningkat dan memicu perkembangan 5-20 folikel alias kantong yang berisi indung telur didalam ovarium.

2. Fase Pra Ovulasi dan Fase Ovulasi

Pada fase pra ovulasi, lapisan dinding rahim yang sempat luruh ini akan mulai mengalami penebalan kembali. Lapisan dinding rahim tersebut cukup tipis sehingga sperma dapat secara mudah melewati lapisan dinding ini serta bisa bertahan sekitar 3-5 hari. Proses penebalan rahim ini dipicu oleh adanya peningkatan hormon.

Mungkin, beberapa dari kita mengira bahwa ovulasi biasanya terjadi pada hari ke-14 setelah siklus pertama. Akan tetapi, pada dasarnya masa ovulasi setiap wanita tidaklah sama karena tergantung pada siklus menstruasi masing-masing.

3. Fase Pra Menstruasi

Pada fase ini, lapisan dinding rahim akan semakin mengalami penebalan. Hal ini dikarenakan adanya folikel yang telah pecah dan mengeluarkan sel telur. Kemudian, korpus luteum akan terbentuk. Setelah itu, korpus luteum akan memproduksi progesteron yang membuat lapisan dinding rahim semakin mengalami penebalan. Apabila tidak terjadi pembuahan, maka kita akan mulai mengalami gejala pra menstruasi alias PMS yang dapat berupa perubahan emosi serta perubahan kondisi fisik seperti cepat lelah dan pusing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *